AMPHIBI
![]() |
| Di tulis oleh M. Ageng Kemal (sebelah kanan) |
Agus adalah seorang pemuda desa, sekarang ia menginjak usa 19
tahun. Dia dikenal sebagai pribadi yang sederhana, bersahaja, dan baik walaupun
dia orangnya agak tertutup. Sedari kecil penanaman agama yang dilakukan sangat
kuat terhadap dirinya’ jika umumnya anak kecil usia sekolah dasar terlalu asyik
jka sudah bermain dan tak menghiraukan jika ada suara adzan, berbeda dengan Agus.
Sebelum adzan berkumandang, ia segera menyudahi permainannya dan bergegas
pulang untuk bersiap pergi sholat. Penanaman agama yang kuat yang dilakukan
oleh orang tua maaupun Kyainya lama-kelamaan pun berbuah. Agama bukan hanya
sebagai paksaan atau menggugurkan kewajiban. Agus merasa bahwa agama adalah
kebutuhannya yang prioritas. Agus melaksanakan perintah agama tanpa beban
sedikitpun.
Singkat cerita
saat ia duduk dikelas XI Madrasah Aliyah, ia memutuskan untuk mengabdikan
dirinya kepada sang Kyai. Setelah meminta izin kepada orang tuanya, Agus pun
menyampaikan hajatnya kepada Kyainya. Kyai pun menyetuji hal tersebut. Seiring
berjalannya waktu, Agus yang sering mendapat perintah khusus dari Kyainya, bisa
dibilang ia adalah tangan kanan sang Kyai. Tak jarang ia mendapat amanah dari Kyainya
dan juga sering menggantikan beberapa tugas Kyainya. Disatu sisi Agus merasa
senang dengan hal itu, tapi disisi lain Agus meras susah dengan hal itu. Dia
merasa belum pantas menerima amanah dan menggantikan posisi Kyainya tapi suatu
ketika Agus mendapat wejangan dari Kyainya karena ia sempat agak kurang yakin
dalam menjalankannya, Kyainya berpesan bahwa jika ia diberi amanah dan
menggantikan tugas Kyai, hal itu harus diyakini sebagai proses lanjutan dari
belajar yaitu praktek. Tidak boleh diyakini sebagai beban.
Selama Agus
mengabdikan dirinya ia semakin semangat melakukan ibadah. Disana ia merasakan
betul keberadaan Tuhan dalam hidupnya, baik dari sisi dhohiriyah maupun
bathiniyah. Dari sisi dhohiriyah ia tidak pernah merasa kekurangan makan,
selalu punya rokok dan selalu punya kuota internet, dan lain sebagainya. Dari
sisi bathiniyah, ia merasakan betul manisnya iman, nikmat dalam ibadah, pikiran
dan hatinya selalu tenang dan tentram. Kalaupun adamasalah ia selalu
menyelesaikannya dengan tenang dan santai.
Saat ia lulus Dari
Madrasah Aliyah ia bingung ingin melanjutkan pendidikan atau bekerja. Tapi satu
ketika Nyainya memberi motivaasi agar Agus melanjutkan pendidikannya kejenjang
selanjutnya. Nyai berpandangan bahwa Agus mampu dan punya bakat terpendam dan
akan muncul jika diasah dibangku perkuliahan. Dengan berbekal pendapat Nyai, Agus
pun berkonsultasi dengan orang tuanya dan orang tuanya pun mengijinkan jika Agus
pergi kuliah. Dan tak lupa Agus meminta izin dari kyanya, dan Kyai pun
mengijini. Tapi Kyainya berpesan, sekarang atau kapan pun, dimanapun berada
jangan sampai lupa sholat dan mengaji. Dengan berbekal ridho dari orang tua dan
Kyainya, Agus pun dengan mantap melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.
Semenjak Agus ada
dibangku perkuliahan tak jarang ia terlalu disibukkan dengan kuliahnya, hingga
ia taak jarang meninggalkan tugas dari Kyainya baik dengan alasan atau pun
tanpa alasan , Agus sadar dengan hal itu tapi ia seakan keblinger dengan
kuliahnya. Kyainya pun bertanya tanya kemana gerangan Agus, kenapa sering
menghilang. Satu ketika, Kyainya ingin bertemu dengan Agus dan menanyakan
kemana saja Agus menghilang. Saat bertemu empat mata dengan Kyainya Agus
ditanya kemana saja kok sering menghilang. Agus terdiam bingung apa kiranya
jawaban yang baik, tapi tak lama Agus pun diingatkan kembali akan pesan dari Kyainya
sebelum kuliah. Semenjak dari situ, Agus pun kembali aktif dan rajin mengaji
dan melaksanakan tugas dan amanah dari Kyainya.
Tak lama dari
situ, di kampusnya ada perekrutan anggota baru organsasi internal dan eksternal
kampus. Dengan tanpa paksaan, Agus pun mengikuti kedua organisasi tersebut,
karena sejak di bangku Madrasah Aliyah, Agus sudah senang ikut organisasi.
Bahkan sebelum kuliah Agus sudah aktif diorganisasi kepemudaan. Tapi saat masuk
organisasi dikampusnya dia dengan sengaja tidak memberi tahu Kyainya. Dia takut
jika tidak diberi izin, karena Kyainya tahu kalau Agus sudah agak sibuk dan
dikhawatirkan tidak bisa aktif disemua yang ia ikuti, malah ada salah satu jadi korban
nantinya. Tapi Agus dengan yakinnya bisa melakukan semuanya dengan baik.
Lama-kelmaan Agus mulai tenggelam dalam dunia perkuliahan dan organisasi,
hingga ia lupa dengan apa yang telah diamanahkan Kyainya dan itu tak jarang ia
lakukan dengan sadar dan sengaja. Suatu ketika, Kyainya ingin bertemu Agus
karena mungkin karena geramnya terhadap perilaku Agus yang tak sama lagi dengan
yang dulu. Dari pertemuannya dengan Kyai, semangatnya pun mulai redup, ia tak
ingin berkecimpung dimana pun, hingga Agus pernah mempuNyai keinginan untuk
pergi jauh dari desanya dan lari dari kerunyaman hidupnya yang sekarang
terjadi.
Agus merrasa
bingung dan bimbang, ia merasa hidup di dua dunia yang saling bertolak
belakang. Disatu sisi, kampus dan organisasi ia butuhkan dan juga sebaliknya,
tapi disisi lain jika Agus terlalu sibuk dengan kuliah dan organisasinya Kyainya
seakan tidak meridhoi jalannya, Agus masihbutuh Kyainya yang ia anggap
sebagai penunjuk jalan Tuhan. Agus
benar-benar bimbang dengan hal tersebut. Entah kenapa semenjak Agus berada
dibangku kuliah dan aktif diorganisasi ia merasa Tuhan jauh darinya, ia sadar
kalau Tuhan jauh darinya karena Agus memang menjauh dari-Nya. Ibadahnya tak
lagi senikmat dulu, ia tak bisa mengontrol diri akan apapun, ibadah tak lagi
sesemanagat dahulu, bahkan tak jarang ia melakukan perbuatan dosa dengan
sangaja tanpa ada rasa bersalah sedikit pun dalam hatinya.
Agus mulai
merenungi apa yang terjadi dalam hidupnya, hingga ia ingat setiap kali
bergabung dengan suatu organisasi pasti ada prosesi pembaiatan yang didalamnya
terdapat proses mencium bendera merah putih dan bendera organisasi tersebut.
Saat mencium bendera merah putih dan bendera organisasi yang ia ikuti pasti Agus
berdoa kepada Tuhan “Wahai Tuhanku, jika Engkau meridhoi jalanku ini, maka
kumohon permudahlah jalanku. Tapi jika Engkau tidak meridhoi jalan yang kutempuh
ini, maka ingatkanlah aku dengan cara apapun.”
Dari situ Agus mulai berfikir bahwa apa yang ia hadapi alam hidupnya
sekarang ialah suatu bentuk dari ujian dari Tuhan. Tapi lama-kelamaan Agus
mulai berasumsi bahwa itu merupakan teguran dari Tuhan jika jalan yang ia
tempuh itu salah. Dalam kebimbangannya Agus teringat ceramah agama yang ia
dengar lewat radio, Si penceramah manuturkan, kenapa hidup terasa berat dan
banyak masalah, itu karena kita tidak menempatkan suatu hal pada tempatnya.
Kalu ingin hidup kita tenang, tentram dan nyaman, caranya mudah yaitu
meletakkan suatu hal pada tempatnya. Kalau waktunya makan, ya makan. Kalau
waktunya shilat, ya sholat, kalau kerja, ya kerja. Kalau lelah, ya istirahat.
Jangan dibolak balik. Agus pun mulai menciba menerapkan hal tersebut, dan ia
meyakini apapun yang terjadi dalam hidupnya baik itu manis atau pahit merupakan
takdir dari Tuhan dan ia yakin pasti ada hikmah yang bisa dipetik dari sana.
Sambil berjalan dengan cara seperti itu Agus juga tak lupa untuk memikirkan
bagaimana menyikapi dua dunianya dengan serius tapi tetap
santai.

Apik
BalasHapus