berjalan

selamat datang di di laman kami jangan lupa like dan coment

Sabtu, 13 Juni 2020

Amphibi


AMPHIBI

Di tulis oleh M. Ageng Kemal (sebelah kanan)

Agus adalah seorang pemuda desa, sekarang ia menginjak usa 19 tahun. Dia dikenal sebagai pribadi yang sederhana, bersahaja, dan baik walaupun dia orangnya agak tertutup. Sedari kecil penanaman agama yang dilakukan sangat kuat terhadap dirinya’ jika umumnya anak kecil usia sekolah dasar terlalu asyik jka sudah bermain dan tak menghiraukan jika ada suara adzan, berbeda dengan Agus. Sebelum adzan berkumandang, ia segera menyudahi permainannya dan bergegas pulang untuk bersiap pergi sholat. Penanaman agama yang kuat yang dilakukan oleh orang tua maaupun Kyainya lama-kelamaan pun berbuah. Agama bukan hanya sebagai paksaan atau menggugurkan kewajiban. Agus merasa bahwa agama adalah kebutuhannya yang prioritas. Agus melaksanakan perintah agama tanpa beban sedikitpun.
            Singkat cerita saat ia duduk dikelas XI Madrasah Aliyah, ia memutuskan untuk mengabdikan dirinya kepada sang Kyai. Setelah meminta izin kepada orang tuanya, Agus pun menyampaikan hajatnya kepada Kyainya. Kyai pun menyetuji hal tersebut. Seiring berjalannya waktu, Agus yang sering mendapat perintah khusus dari Kyainya, bisa dibilang ia adalah tangan kanan sang Kyai. Tak jarang ia mendapat amanah dari Kyainya dan juga sering menggantikan beberapa tugas Kyainya. Disatu sisi Agus merasa senang dengan hal itu, tapi disisi lain Agus meras susah dengan hal itu. Dia merasa belum pantas menerima amanah dan menggantikan posisi Kyainya tapi suatu ketika Agus mendapat wejangan dari Kyainya karena ia sempat agak kurang yakin dalam menjalankannya, Kyainya berpesan bahwa jika ia diberi amanah dan menggantikan tugas Kyai, hal itu harus diyakini sebagai proses lanjutan dari belajar yaitu praktek. Tidak boleh diyakini sebagai beban.
            Selama Agus mengabdikan dirinya ia semakin semangat melakukan ibadah. Disana ia merasakan betul keberadaan Tuhan dalam hidupnya, baik dari sisi dhohiriyah maupun bathiniyah. Dari sisi dhohiriyah ia tidak pernah merasa kekurangan makan, selalu punya rokok dan selalu punya kuota internet, dan lain sebagainya. Dari sisi bathiniyah, ia merasakan betul manisnya iman, nikmat dalam ibadah, pikiran dan hatinya selalu tenang dan tentram. Kalaupun adamasalah ia selalu menyelesaikannya dengan tenang dan santai.
            Saat ia lulus Dari Madrasah Aliyah ia bingung ingin melanjutkan pendidikan atau bekerja. Tapi satu ketika Nyainya memberi motivaasi agar Agus melanjutkan pendidikannya kejenjang selanjutnya. Nyai berpandangan bahwa Agus mampu dan punya bakat terpendam dan akan muncul jika diasah dibangku perkuliahan. Dengan berbekal pendapat Nyai, Agus pun berkonsultasi dengan orang tuanya dan orang tuanya pun mengijinkan jika Agus pergi kuliah. Dan tak lupa Agus meminta izin dari kyanya, dan Kyai pun mengijini. Tapi Kyainya berpesan, sekarang atau kapan pun, dimanapun berada jangan sampai lupa sholat dan mengaji. Dengan berbekal ridho dari orang tua dan Kyainya, Agus pun dengan mantap melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.
            Semenjak Agus ada dibangku perkuliahan tak jarang ia terlalu disibukkan dengan kuliahnya, hingga ia taak jarang meninggalkan tugas dari Kyainya baik dengan alasan atau pun tanpa alasan , Agus sadar dengan hal itu tapi ia seakan keblinger dengan kuliahnya. Kyainya pun bertanya tanya kemana gerangan Agus, kenapa sering menghilang. Satu ketika, Kyainya ingin bertemu dengan Agus dan menanyakan kemana saja Agus menghilang. Saat bertemu empat mata dengan Kyainya Agus ditanya kemana saja kok sering menghilang. Agus terdiam bingung apa kiranya jawaban yang baik, tapi tak lama Agus pun diingatkan kembali akan pesan dari Kyainya sebelum kuliah. Semenjak dari situ, Agus pun kembali aktif dan rajin mengaji dan melaksanakan tugas dan amanah dari Kyainya.
            Tak lama dari situ, di kampusnya ada perekrutan anggota baru organsasi internal dan eksternal kampus. Dengan tanpa paksaan, Agus pun mengikuti kedua organisasi tersebut, karena sejak di bangku Madrasah Aliyah, Agus sudah senang ikut organisasi. Bahkan sebelum kuliah Agus sudah aktif diorganisasi kepemudaan. Tapi saat masuk organisasi dikampusnya dia dengan sengaja tidak memberi tahu Kyainya. Dia takut jika tidak diberi izin, karena Kyainya tahu kalau Agus sudah agak sibuk dan dikhawatirkan tidak bisa aktif disemua yang  ia ikuti, malah ada salah satu jadi korban nantinya. Tapi Agus dengan yakinnya bisa melakukan semuanya dengan baik. Lama-kelmaan Agus mulai tenggelam dalam dunia perkuliahan dan organisasi, hingga ia lupa dengan apa yang telah diamanahkan Kyainya dan itu tak jarang ia lakukan dengan sadar dan sengaja. Suatu ketika, Kyainya ingin bertemu Agus karena mungkin karena geramnya terhadap perilaku Agus yang tak sama lagi dengan yang dulu. Dari pertemuannya dengan Kyai, semangatnya pun mulai redup, ia tak ingin berkecimpung dimana pun, hingga Agus pernah mempuNyai keinginan untuk pergi jauh dari desanya dan lari dari kerunyaman hidupnya yang sekarang terjadi.
            Agus merrasa bingung dan bimbang, ia merasa hidup di dua dunia yang saling bertolak belakang. Disatu sisi, kampus dan organisasi ia butuhkan dan juga sebaliknya, tapi disisi lain jika Agus terlalu sibuk dengan kuliah dan organisasinya Kyainya seakan tidak meridhoi jalannya, Agus masihbutuh Kyainya yang ia anggap sebagai  penunjuk jalan Tuhan. Agus benar-benar bimbang dengan hal tersebut. Entah kenapa semenjak Agus berada dibangku kuliah dan aktif diorganisasi ia merasa Tuhan jauh darinya, ia sadar kalau Tuhan jauh darinya karena Agus memang menjauh dari-Nya. Ibadahnya tak lagi senikmat dulu, ia tak bisa mengontrol diri akan apapun, ibadah tak lagi sesemanagat dahulu, bahkan tak jarang ia melakukan perbuatan dosa dengan sangaja tanpa ada rasa bersalah sedikit pun dalam hatinya.
            Agus mulai merenungi apa yang terjadi dalam hidupnya, hingga ia ingat setiap kali bergabung dengan suatu organisasi pasti ada prosesi pembaiatan yang didalamnya terdapat proses mencium bendera merah putih dan bendera organisasi tersebut. Saat mencium bendera merah putih dan bendera organisasi yang ia ikuti pasti Agus berdoa kepada Tuhan “Wahai Tuhanku, jika Engkau meridhoi jalanku ini, maka kumohon permudahlah jalanku. Tapi jika Engkau tidak meridhoi jalan yang kutempuh ini, maka ingatkanlah aku dengan cara apapun.”  Dari situ Agus mulai berfikir bahwa apa yang ia hadapi alam hidupnya sekarang ialah suatu bentuk dari ujian dari Tuhan. Tapi lama-kelamaan Agus mulai berasumsi bahwa itu merupakan teguran dari Tuhan jika jalan yang ia tempuh itu salah. Dalam kebimbangannya Agus teringat ceramah agama yang ia dengar lewat radio, Si penceramah manuturkan, kenapa hidup terasa berat dan banyak masalah, itu karena kita tidak menempatkan suatu hal pada tempatnya. Kalu ingin hidup kita tenang, tentram dan nyaman, caranya mudah yaitu meletakkan suatu hal pada tempatnya. Kalau waktunya makan, ya makan. Kalau waktunya shilat, ya sholat, kalau kerja, ya kerja. Kalau lelah, ya istirahat. Jangan dibolak balik. Agus pun mulai menciba menerapkan hal tersebut, dan ia meyakini apapun yang terjadi dalam hidupnya baik itu manis atau pahit merupakan takdir dari Tuhan dan ia yakin pasti ada hikmah yang bisa dipetik dari sana. Sambil berjalan dengan cara seperti itu Agus juga tak lupa untuk memikirkan bagaimana menyikapi dua dunianya dengan serius tapi tetap santai.

1 komentar: